Menyelaraskan data dan preferensi Anda...
Seringkali kita mendengar nasihat, "Sudahlah, tawakal saja kepada Allah, rezeki tidak akan ke mana." Sayangnya, kalimat indah ini sering kali disalahpahami oleh sebagian orang, dan dijadikan sebagai excuse (alasan) untuk bermalas-malasan.
Mereka berdiam diri di rumah, memperbanyak doa, namun mengabaikan ikhtiar, sambil berharap keajaiban akan turun dari langit layaknya hujan. Padahal, benarkah demikian konsep tawakal yang diajarkan dalam Islam?
Mari kita renungkan Tadzkirah berikut ini agar kita tidak salah kaprah dalam menjemput rezeki.
Tawakal bukanlah kepasrahan yang pasif. Tawakal yang sejati adalah perpaduan yang indah antara ikhtiar yang maksimal dengan ketundukan hati yang total.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memang Maha Pemberi Rezeki. Namun, Dia telah menetapkan sunnatullah bahwa rezeki itu disembunyikan di balik "pintu-pintu sebab". Pintu-pintu ini tidak akan terbuka dengan sendirinya; kitalah yang harus membukanya melalui perjuangan dan kerja keras. Doa adalah kuncinya, namun ikhtiar adalah cara kita memutar kunci tersebut.
Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan kita untuk bergerak, bukan berdiam diri. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Mulk ayat 15:
Dialah (Allah) yang menjadikan bumi untuk kalian yang mudah dijelajahi, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kalian (akan kembali setelah) dibangkitkan.
Perintah "berjalanlah di segala penjurunya" adalah instruksi untuk menjemput bagian kita. Rezeki tidak akan pernah turun kepada mereka yang hanya berpangku tangan. Rezeki akan mengalir deras kepada hamba yang berani melangkah, berkeringat, dan bergerak.
Jika Anda merasa bahwa bekerja keras adalah hal yang rendah, maka belajarlah dari manusia-manusia paling mulia di muka bumi: Para Nabi.
Mereka adalah orang-orang pilihan yang paling dekat dengan Allah. Doa mereka pasti dikabulkan. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berpangku tangan.
Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan, "Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada memakan hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Al-Bukhari). Hadits ini adalah tamparan bagi siapa saja yang meremehkan ikhtiar. Tidak ada profesi yang terlalu rendah bagi seorang muslim, selama itu halal.
Tadzkirah ini mengingatkan kita untuk menjadi hamba yang pertengahan (wasathiyah).
Jangan merasa cukup hanya dengan rajin beribadah dan berdoa, lalu mengabaikan ikhtiar lahiriah. Namun, jangan pula mati-matian bekerja keras hingga lupa berdoa dan bergantung kepada Allah.
Jadilah pribadi yang disiplin dan militan: Lidahnya selalu basah dengan doa, namun keringatnya senantiasa menetes di medan ikhtiar. Di situlah letak keberkahan yang sesungguhnya.
Simak Nasihat Selengkapnya
Agar pemahaman kita tentang tawakal dan ikhtiar semakin utuh, mari simak penjelasan selengkapnya melalui video singkat berikut ini:
Semoga Allah mengaruniakan kita semangat untuk menjemput rezeki yang halal, dan memberkahi setiap tetes keringat kita. Bagikan pengingat ini kepada kerabat yang mungkin sedang butuh motivasi untuk kembali berikhtiar!