Menyelaraskan data dan preferensi Anda...
Pernahkah Anda merasa hidup ini begitu bising? Bukan karena suara kendaraan di jalanan, melainkan karena isi kepala kita yang terus-menerus memproduksi keluhan, komentar, dan perdebatan tentang hal-hal yang tidak penting.
Di era media sosial seperti sekarang, kita seperti diberi panggung untuk mengomentari segalanya: mulai dari berita artis, politik, hingga kehidupan tetangga sebelah. Padahal, setiap kata yang kita ucapkan (atau kita ketik) akan dimintai pertanggungjawabannya.
Dalam salah satu nasihatnya, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) memberikan sebuah terapi rohani yang sangat patut kita coba. Terapi ini bernama "Latihan Mengurangi Komentar". Mari kita simak Tadzkirah berikut ini.
Sadar atau tidak, kita seringkali asal nyeletuk atau mengomentari hal-hal kecil di sekitar kita. Makanan sedikit kurang asin, kita komentar. Ada orang pakai baju warnanya mencolok, kita komentar.
Aa Gym mengajak kita untuk mulai berlatih, sedikit demi sedikit, hari demi hari:
Bayangkan, jika kita bisa menahan lisan dari hal-hal tersebut, betapa banyak energi yang bisa kita hemat. Hati kita pasti akan jauh lebih tenang dan damai.
Selain puasa komentar, Aa Gym juga menekankan pentingnya menahan diri dari perdebatan. Berapa banyak dari kita yang menghabiskan waktu berjam-jam berdebat di kolom komentar Facebook atau Instagram hanya untuk membuktikan bahwa kita benar?
Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar." (HR. Abu Dawud).
Berhentilah meladeni debat kusir yang tidak berujung. Menang dalam perdebatan seringkali hanya membesarkan ego, tapi merusak kedamaian hati dan ukhuwah.
Lalu, bagaimana cara agar kita tidak mudah terpancing untuk berkomentar? Aa Gym membagikan sebuah rahasia akhlak yang sering dilakukan oleh para ulama terdahulu, yaitu Taghaful (Seni berpura-pura tidak tahu).
Aa Gym menjelaskan, "9 dari 10 perkara, para ulama itu pura-pura tidak tahu."
Ya, para ulama sering kali pura-pura tidak mendengar atau tidak melihat sesuatu yang kurang berkenan, agar tidak perlu dikomentari. Tentu dengan sebuah catatan penting: Hal tersebut dilakukan sepanjang bukan sebuah kemungkaran, bukan tentang kewajiban yang ditinggalkan, dan bukan hal yang membahayakan orang lain.
Jika itu hanya urusan sepele yang tidak melanggar syariat, biarkan saja. Tidak semua hal harus kita komentari. Tidak semua perbuatan orang lain harus sesuai dengan selera kita.
Tadzkirah ini mengingatkan kita untuk lebih bijak mengelola energi lisan dan pikiran kita. Mulai hari ini, mari kita terapkan prinsip Taghaful.
Tutup mata dari kekurangan kecil orang lain, tutup telinga dari gosip yang tidak bermanfaat, dan tahan lisan dari komentar yang tidak membawa kebaikan. InsyaAllah, dengan "berpuasa komentar", hidup kita akan terasa jauh lebih ringan dan bahagia.
Simak Nasihat Selengkapnya
Mari kita simak cara penyampaian Aa Gym yang khas dan mengena tentang latihan "Puasa Komentar" ini dalam cuplikan video berikut:
Semoga Allah melembutkan hati kita dan menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia. Silakan bagikan pengingat ini kepada saudara kita yang lain, mungkin ada yang sedang butuh "istirahat" dari keriuhan!