Menyelaraskan data dan preferensi Anda...
Ketika mendengar kata "amal saleh", apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita? Mungkin kita membayangkan hal-hal besar seperti membangun masjid, menyumbang jutaan rupiah untuk anak yatim, atau berangkat umroh berulang kali.
Karena selalu terpaku pada hal-hal besar, kita sering menunda berbuat baik dengan alasan, "Nanti saja tunggu kaya," atau "Nanti kalau lagi ada waktu luang."
Padahal, dalam sebuah nasihatnya yang sangat menyentuh, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) membedah hakikat keikhlasan melalui sebuah benda kecil yang sering diremehkan: Jarum Pentul.
Bagaimana sebuah jarum pentul bisa menguji keikhlasan hati kita? Mari kita renungkan Tadzkirah berikut ini.
Aa Gym membuka penjelasannya dengan sebuah rumus sederhana: "Orang yang ikhlas itu sudah tidak pusing dengan amal besar atau amal kecil."
Mengapa mereka tidak pusing? Karena fokus mereka bukan pada seberapa heboh amal tersebut di mata manusia, melainkan pada satu hal: Diterima oleh Allah atau tidak?
Amal sebesar gunung bisa hancur lebur tak bersisa jika di dalamnya ada sifat riya' (ingin dipuji). Sebaliknya, amal sekecil debu bisa bernilai surga jika dilakukan murni hanya karena mengharap ridha Allah.
Aa Gym memberikan sebuah contoh yang sangat relatable. Bayangkan Anda sedang duduk di karpet masjid, lalu mata Anda menangkap sebuah jarum pentul yang tertinggal (mungkin bekas ibu-ibu yang sedang memperbaiki kerudung).
Itu benda yang sangat kecil. Banyak orang yang melihatnya mungkin akan mengabaikannya. Tapi, bagi Allah, tidak ada yang kecil.
Orang yang ikhlas dan peka hatinya akan melihat jarum pentul itu sebagai sebuah "rezeki" dari Allah. Ia akan berkata di dalam hati: "Ya Allah, Engkau takdirkan mataku melihat jarum pentul ini. Ini adalah ladang amalku hari ini."
Lalu, apa yang dilakukan orang ikhlas tersebut? Ia cukup mengambil jarum itu, mengamankannya, dan menitipkannya kepada pengurus masjid (DKM). Selesai.
Ia tidak perlu mem-posting-nya ke media sosial. Ia tidak perlu memfoto jarum itu lalu menulis status: "Alhamdulillah hari ini menyelamatkan jamaah dari tertusuk jarum." Ia juga tidak perlu berteriak pamer kepada orang di sebelahnya.
Kenapa ia bisa setenang itu? Karena ia sudah merasa cukup. Ia yakin Allah yang menakdirkannya melihat jarum itu, dan Allah yang menolongnya untuk mengambil jarum itu. Transaksinya dengan Allah sudah tuntas, dan ia sudah puas dengan itu.
Tadzkirah ini adalah pengingat untuk kita semua, terutama di era media sosial di mana segala kebaikan seolah harus didokumentasikan dan dipertontonkan.
Mulai sekarang, latihlah keikhlasan kita dari hal-hal yang paling remeh dan tersembunyi. Singkirkan duri di jalan, matikan keran air masjid yang meluber, atau pungut sampah kecil di depan rumah tanpa perlu ada satu pun manusia yang tahu. Rasakan nikmatnya beramal secara diam-diam.
Simak Nasihat Selengkapnya
Agar hati kita semakin termotivasi untuk melatih keikhlasan, mari kita dengarkan langsung perumpamaan indah dari Aa Gym melalui video singkat berikut ini:
Semoga Allah merahmati kita dengan hati yang ikhlas, yang tak pernah lelah menebar kebaikan sekecil apapun, meski tak ada satu manusia pun yang melihat. Bagikan artikel ini untuk menyebarkan semangat beramal secara sembunyi-sembunyi!