Menyelaraskan data dan preferensi Anda...
Pernahkah kita menolong seseorang secara maksimal, tapi boro-boro dibalas, diucapkan terima kasih pun tidak? Rasanya pasti kesal dan kecewa. Pada akhirnya, kita jadi kapok dan malas untuk berbuat baik lagi.
Rasa kecewa itu wajar, tapi itu menandakan ada yang salah dengan cara kita menata hati. Dalam sebuah nasihatnya, Ustadz Sonny Abi Kim membagikan sebuah konsep yang beliau sebut sebagai "Abundance Mindset" atau mental kaya.
Orang yang punya mental kaya tidak akan pernah merasa rugi saat berbuat baik. Bagaimana cara membangun mental seperti ini? Mari kita renungkan Tadzkirah berikut ini.
Kunci pertama agar kita tidak gampang kecewa adalah: Lepas.
Ustadz Sonny Abi Kim menjelaskan, orang yang punya mental kaya itu kalau berbuat baik ya sudah, lepas saja. Dia tidak akan sibuk memikirkan apakah kebaikannya akan dibalas oleh manusia atau tidak.
Kenapa dia bisa se-santai itu? Karena dia sudah sangat puas dengan janji balasan dari Allah. Dia punya prinsip: "Jika aku berbuat baik, maka kebaikan pasti akan datang kepadaku." Kebaikan itu tidak harus datang dari orang yang kita tolong, karena Allah bisa mendatangkan balasan dari pintu mana saja yang tidak terduga.
Salah satu alasan mengapa kita sering pelit untuk berbagi (baik itu berbagi harta, tenaga, atau waktu) adalah karena kita merasa khawatir hidup kita akan kekurangan. Kita merasa harus menggenggam semuanya sendiri agar aman.
Padahal, orang yang bermental kaya tahu persis bahwa hidupnya berada dalam genggaman Allah. Dan genggaman Allah itu enggak mungkin salah dan nggak pernah salah.
Keyakinan inilah yang membuat seseorang menjadi sangat ringan untuk berbagi. Ia tahu bahwa rezekinya, masa depannya, dan kebahagiaannya dijamin oleh Dzat yang tidak pernah keliru dalam mengurus hamba-Nya.
Di akhir nasihatnya, Ustadz Sonny memberikan sebuah kalimat penutup yang sangat indah untuk menata ruang batin kita. Sebuah afirmasi yang harus kita tanamkan saat menghadapi takdir yang mungkin tidak sesuai keinginan kita:
"Aku mencintai takdirku. Karena aku tahu, Dzat yang menetapkan takdir atas hidupku adalah Dzat yang paling mencintaiku."
Terkadang takdir itu terasa pahit. Tapi jika kita sadar bahwa takdir itu diracik oleh Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang—yang cintanya jauh lebih besar dari cinta seorang ibu kepada anaknya—maka hati kita akan jauh lebih tenang menerimanya.
Tadzkirah ini mengajak kita untuk mengevaluasi niat. Berhentilah berbuat baik sebagai alat untuk "bertransaksi" dengan manusia. Berbuat baiklah karena Anda ingin mendapat balasan dari Allah.
Mulai sekarang, latihlah diri kita untuk punya mental kaya. Bantulah orang lain lalu lupakan. Berbagilah dengan ringan. Dan belajarlah untuk tersenyum merangkul takdir yang Allah tetapkan hari ini.
Simak Pesan Selengkapnya
Agar hati kita semakin lapang dan tenang, mari dengarkan langsung nasihat dari Ustadz Sonny Abi Kim melalui video singkat berikut ini:
Semoga setelah merenungi pesan ini, kita menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan tidak lagi mudah kecewa oleh manusia. Bagikan artikel ini untuk teman Anda yang mungkin sedang merasa lelah karena kebaikannya tidak dihargai!