Menyelaraskan data dan preferensi Anda...
Mari kita jujur pada diri sendiri. Seringkali, kita sangat mengerti bahwa ghibah (membicarakan orang lain) itu dosa, tapi kita tetap asyik melakukannya. Kita tahu bahwa menunda shalat itu buruk, tapi kita tetap asyik scrolling layar HP.
Kita sadar betul mana yang halal dan mana yang haram, tapi mengapa tubuh ini terasa begitu berat untuk menjauhi maksiat? Mengapa ilmu yang kita miliki seolah tidak ada harganya saat berhadapan dengan godaan?
Dalam sebuah nasihat yang sangat menyentuh, Buya Yahya menjawab kegelisahan ini. Beliau mengingatkan kita tentang satu hal yang jauh lebih penting daripada sekadar "tahu", yaitu Hidayah. Mari kita renungkan Tadzkirah berikut ini.
Seringkali kita berdebat atau menasihati orang lain dengan dalil dan argumen yang sangat kuat (hujjah). Namun, anehnya orang tersebut tetap tidak mau berubah.
Buya Yahya mengingatkan, "Biarpun dengan hujjah yang kuat, orang-orang kalau (hatinya) sudah ditutup, akan tetap saja buta."
Kebenaran yang rasional tidak akan pernah bisa menembus hati yang sudah dikunci. Itulah mengapa kita tidak boleh sombong dengan logika atau ilmu agama yang kita miliki, karena ilmu saja tidak cukup untuk menggerakkan seseorang kepada ketaatan.
Di sinilah letak teguran keras untuk kita semua. Buya Yahya menegaskan, biarpun seseorang mengerti sebuah kebenaran, tidak serta-merta ia akan mudah mengikuti kebenaran tersebut.
Sebagai contoh, pada zaman Rasulullah ﷺ, tokoh-seperti Abu Jahal bukanlah orang yang bodoh. Mereka sangat mengerti bahasa Arab, paham keindahan Al-Qur'an, dan tahu kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Tapi apakah mereka beriman? Ternyata tidak. Mereka gagal mengikuti kebenaran tersebut.
Kebenaran hanya bisa diikuti jika dibarengi dengan petunjuk (hidayah) dari Allah.
Jika hari ini Anda merasa mudah melangkahkan kaki ke masjid, mudah menahan lisan dari kata-kata kotor, atau mudah menundukkan pandangan, bersyukurlah. Itu bukan karena Anda hebat, tapi karena Allah sedang memberikan hidayah-Nya.
Buya Yahya berpesan dengan sangat tegas: "Hidayah dari Allah itu mahal sekali, maka tolong dijaga itu hidayah."
Banyak dari kita yang menangis saat kehilangan harta, tapi kita santai saja saat hidayah perlahan-lahan dicabut dari hati kita. Padahal, tanpa hidayah, hidup kita akan hancur lebur.
Coba renungkan kalimat Buya Yahya ini: "Kita mengerti itu dosa, tapi ternyata seruan hawa nafsu mengajak ke sana. Dan kadang kita mengikuti, bahkan mungkin kita melakukan dosa dalam keadaan kita tahu kalau itu dosa."
Ini adalah realita kehidupan kita. Kita kalah oleh hawa nafsu kita sendiri. Oleh karena itu, jangan pernah merasa aman dari dosa. Jangan pernah bosan memohon kepada Allah agar hati kita diteguhkan. Karena sebatas ilmu di kepala tidak akan mampu melawan tarikan hawa nafsu, kecuali Allah yang menolong kita.
Tadzkirah ini adalah pengingat untuk kita semua. Jangan hanya berdoa meminta rezeki atau kesehatan. Mulai sekarang, perbanyaklah doa meminta hidayah.
“Ihdinash-shiraathal-mustaqiim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Bacalah doa ini dalam shalat bukan hanya sebagai hafalan, tapi dengan penuh penghayatan, karena tanpa hidayah-Nya, kita hanyalah orang yang tahu jalan tapi tersesat di kegelapan.
Simak Nasihat Selengkapnya
Agar hati kita semakin peka dan tidak meremehkan mahalnya hidayah, mari kita simak langsung nasihat mendalam dari Buya Yahya melalui cuplikan video berikut ini:
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga hidayah di dalam hati kita hingga akhir hayat kelak. Bagikan artikel ini untuk mengajak sahabat dan keluarga kita merenung bersama!