Menyelaraskan data dan preferensi Anda...
Pernahkah kita merasa sulit tidur karena memikirkan hari esok? Mendengar berita tentang resesi ekonomi, bisnis yang sedang sepi, atau prediksi tahun depan yang katanya akan "lebih gelap", seringkali membuat dada kita terasa sesak.
Kita mulai overthinking: "Nanti kalau uangnya habis gimana? Nanti kalau di-PHK gimana? Nanti anak sekolah pakai apa?"
Sadar atau tidak, kecemasan (anxiety) yang berlebihan ini perlahan-lahan merusak jiwa kita. Dalam sebuah nasihat yang sangat mendalam, kita diingatkan tentang satu hal yang hilang dari diri kita ketika ketakutan itu datang, yaitu hilangnya keseimbangan antara Mikir dan Dzikir.
Mari kita renungkan Tadzkirah berikut ini, agar hati kita kembali menemukan penawarnya.
Banyak orang kaya raya, hartanya melimpah, dan jabatannya tinggi, namun mereka harus meminum obat penenang hanya untuk bisa tidur di malam hari. Mereka mencari-cari ketenangan, tapi tidak bisa mendapatkannya.
Mengapa? Karena ketenangan batin bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan materi. Ketenangan adalah "Rezeki VIP" yang kualitasnya jauh lebih tinggi dan lebih bagus daripada sekadar harta dunia. Dan tahukah Anda? Rezeki ketenangan ini hanya diberikan Allah secara khusus kepada orang-orang yang bertakwa.
Bagi orang yang bertakwa, apakah mereka kebal dari masalah ekonomi atau kebangkrutan? Tentu tidak. Musibah dan kesusahan bisa menimpa siapa saja.
Namun bedanya, Allah menjaga hati orang yang bertakwa. Ketika musibah datang menghantam, bisnis hancur, atau tertimpa ujian berat, hati mereka tidak ikut hancur. Mereka tidak terpuruk dan meratapi nasib secara berlebihan. Mereka tahu bahwa selama Allah masih menjadi Tuhan mereka, masa depan mereka akan baik-baik saja.
Ketakutan terbesar manusia seringkali bukanlah pada apa yang sedang terjadi saat ini, melainkan pada hal-hal buruk yang belum tentu terjadi di masa depan. Kita terlalu sering memikirkan skenario terburuk yang hanya ada di dalam kepala kita.
Sikap berandai-andai yang tidak berdasar ini hanya akan merusak diri dan jiwa kita sendiri. Setan sangat menyukai hati seorang mukmin yang diliputi rasa takut akan masa depan, karena ketakutan itu akan menggerus rasa husnudzan (baik sangka) kita kepada Allah.
Lalu, apakah sebagai Muslim kita tidak boleh memikirkan masa depan? Apakah orang bertakwa itu tidak perlu mikir?
Tentu saja kita harus mikir! Kita wajib berikhtiar, merencanakan keuangan, dan menyiapkan strategi bisnis. Namun, bedanya, orang yang bertakwa tidak berlebih-lebihan dalam memikirkannya.
Rumus utamanya adalah: Mengawinkan antara Dzikir dan Mikir.
Sumber dari segala kegalauan, anxiety, dan depresi di masa kini adalah karena kita "Kebanyakan mikir, tapi kurang dzikir." Kita mengandalkan otak kita yang terbatas, tapi lupa melibatkan Allah Yang Maha Kuasai segalanya.
Tadzkirah ini adalah alarm bagi kita yang sedang merasa penat dengan urusan dunia. Berhentilah sejenak. Jika kepala sudah terlalu panas karena urusan bisnis dan pekerjaan, ambillah air wudhu. Berdzikirlah.
Sempurnakan ikhtiar (mikir), lalu serahkan hasil akhirnya kepada Allah (dzikir). InsyaAllah, hati akan menjadi tenang, apapun prediksi buruk yang dikatakan dunia.
Simak Nasihat Selengkapnya
Agar hati kita semakin mantap dan tidak mudah digoyahkan oleh ketakutan masa depan, mari luangkan waktu sejenak untuk menyimak renungan indah berikut ini:
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita rezeki berupa rasa tenang dan keyakinan hati yang kuat. Jangan lupa bagikan artikel ini, siapa tahu ada sahabat kita yang sedang cemas dan sangat membutuhkan pesan ini hari ini!