Menyelaraskan data dan preferensi Anda...
Pernahkah kita membenarkan sebuah keburukan hanya karena kita merasa memiliki tujuan yang baik?
Misalnya, seseorang terpaksa mengambil uang yang bukan haknya (korupsi/menipu) dengan dalih untuk memberi makan anak istri. Atau, seseorang menyebarkan berita hoax di media sosial dengan alasan untuk "membela agama". Ketika ditegur, kalimat pamungkas yang sering diucapkan adalah: "Yang penting kan niat saya baik!"
Dalam sebuah nasihatnya, Buya Yahya memberikan teguran keras terkait mindset ini. Dalam Islam, niat yang baik tidak lantas membuat sebuah perbuatan haram menjadi halal. Mari kita renungkan Tadzkirah berikut ini agar amal ibadah kita tidak berujung sia-sia.
Buya Yahya menegaskan sebuah kaidah penting yang harus menjadi rumus dalam hidup seorang Muslim: "Niat baik tidak cukup kecuali dengan cara yang benar."
Islam tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga sangat memperhatikan proses. Niat adalah pondasi di dalam hati, sedangkan cara (metode) adalah wujud ketaatan kita pada syariat. Tujuan sebaik apa pun, jika diraih dengan cara yang menabrak aturan Allah, maka tujuan tersebut tidak akan pernah sampai pada ridha-Nya.
Untuk memudahkan kita paham, Buya Yahya memberikan dua contoh analogi ekstrem yang sering terjadi di kehidupan nyata.
Begitulah perumpamaan orang yang ingin meraih kebaikan, namun menempuh jalan keburukan. Kebaikan tidak akan pernah bisa bercampur dengan kebatilan.
Lalu, bagaimana agar kita terhindar dari kesia-siaan? Buya Yahya menjelaskan karakter Al-Qashid, yaitu orang yang lurus dan benar tujuannya.
Orang yang beruntung adalah mereka yang bisa mengawinkan dua hal: Tujuannya (niatnya) benar, dan cara merahihnya pun benar.
Barangsiapa yang memulai langkahnya dengan niat ikhlas karena Allah, lalu menempuh jalan yang halal dan diridhai-Nya, maka Buya Yahya menegaskan: "Lam yakhib" (Dia tidak akan sia-sia dan tidak akan merugi). Usahanya pasti akan dibalas dengan pahala dan keberkahan.
Tadzkirah ini adalah alarm bagi kita untuk mengevaluasi kembali ambisi dan cara kerja kita sehari-hari.
Berhentilah memanipulasi hati nurani dengan dalih "demi kebaikan". Jika tujuannya menafkahi keluarga, carilah pekerjaan yang halal. Jika tujuannya berdakwah, gunakanlah bahasa yang santun dan fakta yang benar. Jangan kotori niat suci Anda dengan jalan yang dimurkai Allah.
Simak Penjelasan Selengkapnya
Agar nasihat ini semakin meresap di hati, mari kita simak langsung penuturan bijaksana dari Buya Yahya melalui cuplikan video berikut ini:
Semoga Allah senantiasa menjaga keikhlasan niat kita, dan membimbing langkah kita agar selalu berada di jalan yang halal dan benar. Bagikan artikel ini agar semakin banyak yang tersadarkan dari jebakan "yang penting niatnya baik"!