Menyelaraskan data dan preferensi Anda...
Berapa kali kita membuat target dan resolusi, namun akhirnya gagal di tengah jalan? Ingin rajin tahajud, ingin rutin olahraga, ingin mulai menghafal Al-Qur'an, atau ingin fokus berbisnis—tapi pada akhirnya, rasa malas selalu berhasil menang.
Ketika rasa malas itu datang, kita sering kali pandai mencari excuse (alasan pembenaran). Kita merasa wajar untuk rebahan hari ini dan berjanji akan mengerjakannya "besok saja".
Jika Anda sedang terjebak dalam siklus kemalasan ini, Ustadz Felix Siauw membagikan sebuah trik psikologis yang sangat menohok. Rahasianya sederhana: Hadirkan diri Anda di masa depan untuk mendebat Anda hari ini.
Mari kita renungkan Tadzkirah ini agar kita berhenti mencari alasan.
Pernahkah kita menyadari bahwa rasa malas yang kita pelihara hari ini sebenarnya adalah sebuah bentuk kezaliman? Ya, kita sedang menzalimi diri kita sendiri di masa depan.
Ustadz Felix Siauw menjelaskan sebuah teori yang sangat masuk akal: "Ketika kita sekarang malas, sebenarnya kita sedang mengkhianati diri kita di masa depan."
Coba bayangkan, jika Anda bermalas-malasan hari ini, siapa yang akan menanggung kegagalannya 5 atau 10 tahun lagi? Tentu saja diri Anda sendiri. Anda sedang merampas kesuksesan, kesehatan, dan pahala yang seharusnya bisa dinikmati oleh "versi masa depan" dari diri Anda.
Mengapa kita mudah menyerah? Karena tidak ada sosok "diri kita dari masa depan" yang datang dan memarahi kita saat ini.
Ustadz Felix memberikan perumpamaan: Bayangkan jika Anda sedang malas pergi ke gym atau berolahraga, lalu tiba-tiba diri Anda dari masa depan datang dan marah besar. Ia pasti akan berteriak, "Kenapa dulu kamu malas?! Coba kalau kamu konsisten, badan kita pasti sudah sehat dan kuat sekarang!"
Begitu pula dalam urusan akhirat. Bayangkan jika "diri Anda di masa depan" (saat berada di alam kubur atau Padang Mahsyar) datang menemui Anda yang sedang malas beribadah hari ini. Betapa marahnya ia melihat Anda membuang-buang waktu yang seharusnya bisa menjadi amal jariyah penyelamat di akhirat.
Seringkali teman atau guru menasihati kita untuk berubah, namun kita selalu punya seribu alasan (excuse) untuk membantah.
Ketika orang lain menasihati, ego kita akan berkata: "Ah, kamu kan beda sama aku. Kamu kan orang kaya, wajar kamu sukses," atau "Kamu kan waktunya luang, aku kan sibuk." Kita menolak nasihat karena merasa orang lain tidak paham kondisi kita.
Namun, kita tidak bisa menggunakan alasan itu kepada diri kita di masa depan. Kita tidak bisa berdebat dan mencari alasan di hadapan diri kita sendiri, karena "dia" tahu persis potensi apa yang sebenarnya kita miliki dan kemalasan apa yang sengaja kita pelihara.
Tadzkirah ini adalah sebuah alarm untuk kita semua. Jika mulai hari ini rasa malas itu menyerang, berhentilah sejenak. Tutup mata Anda, dan hadirkan proyeksi diri Anda di masa depan.
Tanyakan pada diri Anda: "Apakah keputusanku untuk rebahan hari ini akan disyukuri atau justru disesali oleh diriku 10 tahun dari sekarang?"
Jika Anda bisa menghadirkan rasa takut mengecewakan diri sendiri di masa depan, insyaAllah, Anda akan memiliki komitmen yang tak tergoyahkan.
Simak Penjelasan Selengkapnya
Agar trik mindset ini semakin jelas dan mudah diaplikasikan, mari simak perumpamaan menarik dari Ustadz Felix Siauw dalam cuplikan video berikut ini:
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk mengalahkan hawa nafsu dan kemalasan kita sendiri. Jangan lupa bagikan artikel ini untuk menampar (dengan halus) sahabat kita yang sedang kehilangan motivasi!